Kabareskrim: Pembobol Bank Mungkin Orang Dalam

Kompas.com - 21/01/2010, 07:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Bareskrim Mabes Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi mengatakan, hasil penyelidikan sementara oleh tim dari Direktorat II Ekonomi Khusus Bareskrim Polri serta Poltabes Denpasar, Bali, menunjukkan, kemungkinan pelaku pembobol uang tabungan nasabah di empat bank di Denpasar adalah orang dalam.

"Indikasi orang luar belum ada. Sementara ini indikasi ada insider atau orang dalam," ucap Ito ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (20/1/2010) malam.

Sebelumnya, 16 nasabah bank BCA, Mandiri, BNI, dan Permata melaporkan kehilangan uang tabungan mereka ke Poltabes Denpasar. Mabes Polri kemudian mengirim tim Rabu kemarin, dipimpin Direktur II Ekonomi Khusus Komjen Raja Erizman.

Ito menjelaskan, orang dalam yang dimaksud bisa petugas bank yang kemungkinan mencuri data digital kartu ATM nasabah. Pelaku pencuri data biasanya kemudian memindahkan data digital itu ke kartu ATM palsu. "Kok (pelaku) bisa tahu. Kartu ATM tanpa tahu kode-kode nggak mungkin (bisa dipakai). Kami sedang dalami dengan pihak bank dan tim kami," ucapnya.

"Insider itu bisa orang dalam bank. Tentunya kami harus mencari kemungkinan ke sana. Kami harus audit dulu sistem keamanan bersama-sama dengan pihak bank. Tapi bisa juga teman dekat nasabah," lanjut Ito.

Apakah mungkin pelaku memasang alat di mesin ATM untuk mencuri data kartu ATM nasabah? "Kami menyelidiki sama-sama pihak bank," jawabnya.

Dari sekitar 16 nasabah yang melapor kehilangan uang di tabungan secara misterius, katanya, semua nasabah itu sebelumnya mengambil uang melalui mesin ATM. "Kami masih pelajari karena angka yang dibobol tidak signifikan. Sementara ini kami lihat modusnya sama, dia gunakan PIN kita," tutur jenderal bintang tiga itu.

Modus yang digunakan pelaku dengan mencuri data kartu ATM nasabah, ujarnya, merupakan modus lama. "Itu (modus) lama. Biasanya ada prosedur, setelah ambil uang di ATM, lalu diacak lagi nomor PIN. Tapi kadang kita lupa," ujarnya.

Sidik sindikat internasional

Ito tidak membantah ketika ditanya mengenai pernyataan pihak bank yang menjadi korban pembobolan bahwa polisi sedang menyelidiki sindikat internasional pembobol bank yang melibatkan warga Rusia dan Indonesia. Menurut Ito, pihaknya mencoba mengaitkan sindikat internasional itu dengan kasus di Bali.

"Itu (penyelidikan sindikat internasional) sudah lama. Kami coba kaitkan dengan pembobolan ATM, apakah ada keterkaitan. Kami harus menganalisis dari berbagai kemungkinan. Tetapi, sementara ini masalahnya pada prosedur pencairan uang di ATM," jawabnya.

Pelaku diperkirakan berapa? " Melihat modusnya, kemungkinan lebih dari satu orang," katanya. Apa kemungkinan sindikat? "Bisa saja. Banyak cara pelaku memanfaatkan kelemahan sistem," ujar Ito.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau